Manusia : "Tuhan, aku ingin punya pacar!!!"
Tuhan : "Kenapa?"
Manusia : “Karena, Tuhan bilang gak baik kalo manusia sendirian,
butuh penolong. Iya kan?"
(Pdhl dalam hati ku : "Aku pengen ada yang sayang-sayang,
ada yang perhatiin, biar ga kesepian, dan ada yang cariin terus.
Hehe… Temen-temenku selalu ada yang jemput kalo pulang
dari mana-mana, selalu ada yang telpon kalo belom pulang
ato belom makan (aduh, please deh…), terus, terus,
ada yang bisa diajak pergi berdua aja biar romantis,
terus, aduh, banyak deh…")
Tuhan : “Nyari jawaban yang alkitabiah ya?”
(Tapi Tuhan tau apa yang ku pikirkan dalam hati).
"Iri ya?"
Manusia : “Kata temenku, ga ada salahnya nyoba dulu, Tuhan.
Lagian kan aku juga ga main-main kok…
Aku kan ga suka hubungan yang main-main.
God juga tau, kan?”
Tuhan : “Aku tau. Aku tau kamu, bahkan yang kamu ga tau
tentang diri kamu.”
Manusia : “God mau bilang kalo pny pacar itu hrs dewasa dulu kan?
Bukankah aku uda cukup dewasa, God?”
Tuhan : “Kamu ingat? Waktu kamu jatuh cinta dulu,
dari yang pertama kali, sampe yang terakhir kalinya
beberapabulan lalu. Kamu pasti inget kan?
Waktu itu berkali-kali kamu terlalu mabuk sampe
lupa sama Aku. Bahkan kamu menomorsatukan
orang yang kamu cintai itu ngelebihin Aku.
Kamu sendiri tau kamu udah terhanyut sama orang-orang
yang pernah kamu suka, bukan lagi terhanyut sama cintaKu.”
Manusia : “Tapi, God, perasaan cinta kan God yang kasih.
Bukan aku yang mau sendiri kan?”
Tuhan : “Kamu tau, kenapa banyak perkawinan yang hancur?”
Manusia : “Karena uda ga cocok lagi?
Karena mereka ga mencintai lagi?”
Tuhan : “Karena mereka ga punya dasar cinta yang kuat.
Makanya setelah beberapa lama perkawinan mereka
ga kuat lagi. Jadinya rusak.”
Manusia : “Dasar yang kuat? Apa itu, Tuhan?”
Tuhan : “CintaKu. Mereka yang mau mencintai pasangannya
seperti dirinya sendiri harus punya hati yang penuh
dengan cintaKu. Itu dasarnya.”
Manusia : “Hmm… Orang ga bisa memberi apa yang dia ga punya.”
Tuhan : “Apa kamu udah penuh dengan cintaKu?
Udah berapa kali kamu memenuhi hatimu dengan
cinta manusia yang ga kekal dan mengesampingkan
cintaKu yang kekal?”
Manusia : “Sering, Tuhan.”
Tuhan : “Apa kamu udah bisa meletakkan Aku di atas segala
perasaan hatimu?
Termasuk perasaan cintamu sama pacarmu?”
Manusia : “Belom, God. Belom…”
Tuhan : “Kenapa kamu mau punya pacar? Nafsu? Daging?
Keinginan hati?”
(Tuhan tersenyum hangat.
TanganNya mengambil kedua tanganku).
“Aku udah berjanji untuk menjaga hatimu.
Seperti yang kamu selalu minta.
Dan aku menepatinya.
Apa sekarang kamu mau Aku melanggar janjiKu sendiri?”
Manusia : “Of course not, God…
I want You to keep my heart,
so that it won’t be broken and fall again.”
Tuhan : “You’ve said it. I’ve heard it.
Now, can you let me keep My promise to you?”
Manusia : “Yes God. Sekarang waktunya aku siapin hatiku
untuk Tuhan bentuk. Pada waktunya nanti,
hatiku telah siap dan bentuknya jadi bagus lagi,
baru aku bisa kasih ke orang itu, yang nantinya
akan jadi suamiku. Iya kan, Tuhan?”
Tuhan : “Yup!”
Manusia : “Seperti yang God bilang, God ga mau hatiku rusak lagi.
God ga mau hatiku terbang lalu jatuh di tmp yg salah.
Sementara aku mempersiapkan hatiku,
mempersiapkan diriku, God yang jaga hatiku,
sampai nanti aku siap.”
Tuhan : “Kamu mau menunggu sampai hatimu matang?”
Manusia : “Ya, Tuhan. Aku tau God akan penuhi janji God.
I will be a lady before I meet My Prince/Princess.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar